Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2014

Girls Alone Together

Sumber Ilustrasi: http://bit.ly/1rD03xr

Online memberi kemudahan dan membuka banyak kemungkinan, pastinya sudah sering kita dengar. Tapi studi yang baru dirilis mencatat, bahwa dalam kurun 15 tahun terakhir, hyper-connected ternyata membawa problem kebudayaan baru: Kita semakin rentan kesepian. Mudah cemburuan dan sering cemas. Karena merasa terus menerus dibanding-bandingkan. Pun menciptakan ilusi menyesatkan. Sehingga berpotensi bikin kita makin lupa: Bahwa Manusia adalah mahkluk sosial.”

Pernahkan terpikir, kenapa semakin connected, kita makin merasa kesepian? Kenapa di tengah keramaian kita kerap merasa sendirian? Kenapa kita sering merasa terancam, gara-gara selalu dibandingkan terhadap orang lain? Kenapa berteman dengan orang-orang yang tak pernah saling jumpa, rasanya lebih mudah? Padahal mereka cuma kita kenal via avatarnya di media sosial saja? Kenapa kita cenderung mudah akrab dengan yang jauh? Sementara dengan orang-orang di lingkungan sekitar yang terdekat, kita makin merasa asing dan sulit berinteraksi secara nyaman? Kenapa kita lebih nyaman menyapa dan berkomunikasi via teks? Kenapa kita makin tak cakap bercakap dan gagap mengungkap fikiran secara runtut dan masuk akal? Kenapa kita merasa lebih mudah dan lancar mengekspresikannya dalam bentuk teks?

Jika pertanyaan senada seperti itu juga menjadi keprihatinan diri kita masing-masing, berarti saatnya kita harus introspeksi. Jangan-jangan, kita sudah mengalami over-dosis? Jangan-jangan kita harus mulai ber-diet online? Jangan-jangan kita sudah terjangkiti dan mengidap sindrom Alone Together atau Hyper-Connected but feel lonely? (lebih…)

Read Full Post »

Sulap Kartu

Sumber ilustrasi: http://bit.ly/1z6vO62

There is no scientific study more vital to man than the study of his own brain. Our entire view of the universe depends on it” — James Cutting, a psychologist at Cornell University

Ini fakta, yang mungkin jarang yang menyadarinya: Dibanding tahun-tahun sebelumnya, kini peluang produk atau brand bisa menjadi juara, tercatat sebagai Box Office, atau penjualannya Best Seller, makin lama semakin sulit saja. Karena lansekap makin bertambah gaduh. Seakan-akan semua brand beradu nyaring menarik perhatian. Padahal antar-produk, kian mirip satu-sama-lain. Suasana pun kini makin clutter. Sementara tuntutan musti serba lekas, memaksa masing-masing individu, terampil ber-multitasking. Akibatnya, fokus perhatian konsumen makin mudah teralihkan. Berharap audies punya waktu longgar atau sempat mengkonsumsi banyak pesan/informasi, kini makin mustahil. Karena kesempatan untuk audiens sempat menyimak dan memperhatikan, makin pendek. Maka, agar produk atau brand bisa sukses dan ‘meledak’ di pasaran, kini dibutuhkan lebih dari sekadar penyesuaian konten, modifikasi kemasan, serta taktik-strategi delivery, tak seperti yang selama ini dibayangkan.

Taktik sulap –yang keberhasilannya sangat mengandalkan keterampilan mengalihkan perhatian audiens— ternyata bisa menjadi solusi, agar produk/brand bisa lebih engaging. Lebih memikat. Menarik minat. Mengubah sempit menjadi sempat. Mempengaruhi pendapat sejawat. Dan akhirnya memudahkan brand bisa terpilih menjadi yang terhebat. (lebih…)

Read Full Post »

Batman dan Batkid

Sumber ilustrasi: http://bit.ly/1u13TzZ

“Our world is a place where information can behave like human genes, and ideas can replicate, mutate and evolve – James Gleick Writer at Smithsonian Magazine”

Pernahkah terpikir, kenapa ada film bisa meledak hingga tercatat sebagai Box Office? Kenapa film lainnya kok justru melempem? Kenapa ada Buku atau Novel jadi best Seller, padahal lainnya flop? Kenapa ada penyanyi yang lagunya bisa sangat populer. Bahkan awet dan tetap disukai hingga beberapa generasi. Sementara, lagu lainnya cepat ngetop, tapi lekas pula dilupakan?

Ternyata hal tersebut bukan sekadar perkara mutu konten. Konon, popularitas itu terkait ‘rumus’ Darwinian factors.

Lepas dari pro-kontra kebenaran Teori Evolusi yang antara lain dipopulerkan oleh Charles Darwin, konon ada empat faktor dari teori tersebut, yang dianggap menjadi pakem dasar, pembentuk model narasi, agar film, syair, lagu, atau produk kebudayaan lainnya, bisa ‘meledak’ di pasaran. Yaitu: survival factor, reproduction, kin selection dan reciprocal altruism. Semakin skenario film, kisah dalam syair lagu atau plot cerita di Novel atau Buku disusun dengan menyesuaikan Darwinian Factors tadi, makin besar pula peluangnya bisa sukses secara bisnis.

Cuma itu faktor penentunya? Tidak juga. Ternyata masih ada faktor lainnya. Bahkan, yang ini lebih kritis sifatnya: Kemampuan produk karya kultural tadi, menjadikan dirinya sebagai Meme: (lebih…)

Read Full Post »

Captain Citrus and Other Marvel Heroes

Sumber ilustrasi: http://bit.ly/1Ed4qEZ

The potential of comic is limitless and exciting!…When you look at a photo or realistic drawing of a face, you see it as the face of another . But when you enter the world of the cartoon, you see yourself.” ― Scott McCloud, writer of ‘Understanding Comics: The Invisible Art’

Jangan pernah menyepelekan Karikatur, Kartun dan Komik. Sejarah umat manusia membuktikan, walau kerap diremehkan, karena dianggap sekadar ‘urusan anak kecil’, tapi ternyata Komik, Kartun dan Karikatur, adalah powerful medium –bukan sekadar genre– yang mampu mengguncang dunia. Bahkan telah mengubah sejarah dan peradaban manusia!

Insiden diplomatik antara AS dan Israel yang melibatkan PM Israel Benjamin Netanyahu yang digambar secara karikatural akan menabrakkan pesawat ke gedung berbendera Amerika adalah bukti paling gres, bahwa bahasa karikatur, bahkan jauh lebih powerful ketimbang pidato atau invasi militer.

Jelang pelaksanaan Pilpres lalu, sebuah Koran berbahasa Inggris terbitan Jakarta terkena imbas, dihujat dan dikecam berbagai kalangan. Itu terjadi juga gara-gara isu karikatural: ia menampilkan karikatur yang dinilai merendahkan Agama Islam. (lebih…)

Read Full Post »

Kamera Pengawas

Sumber ilustrasi http://bit.ly/1p96oVv

“Privacy isn’t important. If you have something that you don’t want anyone to know, maybe you shouldn’t be doing it in the first place.” – Eric Schmidt, Founder of Google

 

Bos Apple, Tim Cook bikin pengakuan menggemparkan. Setelah memilih diam selama enam tahun, di tengah bisik-bisik sumbang banyak kalangan, dua hari lalu akhirnya ia mengakui, bahwa dirinya adalah seorang Gay. Pengakuan yang dipublikasikan meluas sejak Jumat itu, seolah menjadi klimaks dari ingar-bingar pemberitaan tentang kasus ‘pembongkaran aib’ via online yang menimpa sejumlah tokoh dan selebriti selama beberapa pekan terakhir. Bedanya, ‘rahasia’ Tim Cook bukan bocor gara-gara dibongkar hacker. Tapi pengungkapan itu, seakan merupakan iktikad Cook sendiri, untuk mengkonfirmasi gosip miring yang sejak lama beredar.

Tapi pengakuan tersebut menjadi ironi getir. Tentang fakta bahwa di lansekap digital/Internet, selama ini memang ada standar ganda. Sudah bukan rahasia lagi, selama ini pengguna Internet selalu diprovokasi untuk berani terbuka dan mau berbagi informasi tentang apa saja. Bahkan menyangkut informasi privacy dan hal-hal rahasia yang (mungkin) tak pantas diketahui publik. Tapi, bagaimana para Bos perusahaan jejaring Internet –termasuk Tim Cook, Mark Zuckerberg, dan Eric Schmidt— dalam menyikapi isu privacy atas diri mereka sendiri? Ternyata selama ini, mereka tak mau privacy-nya terbuka untuk diketahui oleh publik.

(lebih…)

Read Full Post »