Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Advertising’ Category

Hape di tangan Penjahat

Sumber ilustrasi: http://bit.ly/1rkTN1t

 

Dalam sejarah perkembangan Internet, digital/mobile, interaksinya terhadap bisnis periklanan memang kerap berekses negatif. Tak saja merugikan pelaku industri digital/mobile sendiri. Tapi terutama merugikan dan mengorbankan kenyamanan, keamanan dan perlindungan hak konsumen.”

Gara-gara praktik beriklan yang menimbulkan gangguan, sepekan terakhir ini, jagat industri telekomunikasi dan periklanan digital, riuh-rendah. Hingga posting ini dibuat, sudah enam asosiasi dan organisasi profesi telekomunikasi, informasi, termasuk wadah para praktisi periklanan media, beserta 84 situs online, ramai-ramai menyatakan sikap keberatan mereka. Website untuk mengakomodir sikap penentangan pun, dibuat. Petisi pun diumumkan meluas dan sudah ditandatangani lebih dari 16 ribu pihak yang merasa ikut dirugikan. Isinya, ajakan untuk bersama-sama bersikap menolak praktik beriklan secara menyisip atau intrusive ads, yang dilakukan operator Telkomsel dan XL-Axiata. Potensi kerugian bisnis, akibat pembajakan (hijacking) situs, dampak  eksploitasi, perasaan tak dianggap, diperalat, dan diperlakukan tak adil, pun dibeber ke media. Tak lupa, ekses lain intrusive ads, berupa penurunan jumlah penyinggah situs, serta dampak gangguan kenyamanan pelanggan layanan seluler pun, disertakan.

Dari sisi hukum, praktik pemasangan iklan secara intrusive yang juga diistilahkan interstitial ads ini, dianggap bertentangan dengan Pasal 32 Ayat 1 UU Nomer 11/Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi elektronik. Menyalahi Pasal 20 UU Nomer 8 /Tahun 1999, tentang Perlindungan Hak Konsumen. Pun dinilai tak sesuai dengan etika dan tatakrama periklanan media.

Tapi Telkomsel, XL-Axiata maupun BRTI berpendapat lain. (lebih…)

Read Full Post »

GambarMembahas media masa depan, adalah identik bicara tentang media digital. Dan menyebut media digital – entah kenapa– kebanyakan berkonotasi ongkosnya (semakin) murah dari waktu ke waktu. Bahkan gratisan. Masih belum ditemukannya model bisnis media digital, serta fakta bahwa media digital belum bisa menghasilkan revenue yang signifikan –dibanding yang dihasilkan media konvensional– lantas seakan makin jadi argumen pembenar, bahwa media digital memang identik dengan ongkosnya yang murah, bahkan gratisan. (lebih…)

Read Full Post »

Gambar

Paparan hasil survey Nielsen Indonesia bertajuk Uncommon Sense of the Consumer, yang dirilis 6 Maret 2013 kemarin, layak jadi renungan pembelajaran. Beragam uncommon insight dan anomali ada di paparan Nielsen tersebut. Banyak fakta mengejutkan ditemukan. Menariknya, banyak di antara temuan itu, ternyata berlawanan dengan keyakinan yang dianut publik. (lebih…)

Read Full Post »

Gambar

Debat format dan pertentangan antar-platform, belakangan mulai mereda. Karena memperdebatkan mana yang lebih unggul antara Print Media dibanding Online misalnya, memang irrelevant dan tidak produktif. Justru berbagai lembaga survei skala global membuktikan, bahwa pemaduan antar-format dan delivery multiplatform –antara media tradisional dan online/digital– lebih konkret meningkatkan awareness. Pun juga meningkatkan skor Brand & Message Recall serta Likebaility. Faktanya, pengantaran pesan adalah komunikasi bersifat multiple touch point, multikultural, multidimensi. Antara media tradisional dan nu media kini sekatnya makin blur.  Experience dari aktivitas online dan off line makin tak berbatas tegas. Maka dikenal istilah Cross-Media Platform.

Tapi ‘pendekatan’ cross-media jangan-jangan lebih pas untuk tujuan pengukuran statistik kinerja media saja. Artinya, belum tepat untuk digunakan mengukur efektivitas pengantaran konten pesan. Karena yang kini dituntut, bukan saja bagaimana pesan yang diantarkan bisa ter-delivered. Tak sekadar cuma bisa me-reach potensi pasar yang dibidik. Tapi juga mampu mencetuskan resonance, engage, involve, dan memicu reaction dan akhirnya revenue. Karena itu, mungkin yang lebih pas digunakan, adalah strategi Transmedia. (lebih…)

Read Full Post »

melet kodoke

The Fact is: Nobody reads advertising anymore

Di tengah lansekap yang kian gaduh, konten pesan periklanan, ternyata kian sulit bisa diantar secara efektif sampai tujuan. Dulu, ketidak-efektifan pengantaran pesan iklan ini dikira disebabkan karakter media tradisional  –TV, Radio, Koran, Majalah dll–  yang periode update-nya lamban. Juga karena kemampuan jangkauannya terbatas. Ditambah ketiadaan integrasi antar-format dan medium. Serta karena sifatnya yang tidak interaktif. Tapi jejaring Media Sosial, termasuk yang berplatform Internet dan Mobile yang digadang-gadang sebagai medium periklanan masa depan, pun ternyata juga belum terbukti efektif menghasilkan penjualan.

Sekitar lima tahun terakhir mulai ada kesadaran baru. Praktisi komunikasi, media dan periklanan akhirnya sepakat. Bahwa persoalan efektifitas periklanan –dan yang terkait mekanisme pengantaran konten/pesan secara umum kepada target audiens–  sebenarnya tak ada relevansinya dengan mempertentangkan format atau medium yang digunakan. (lebih…)

Read Full Post »

Gambar

Tahun 2013 sudah tinggal sebentar lagi. Selama setahun terakhir, banyak sekali pergeseran dan perubahan terjadi di lansekap media & komunikasi, yang terus mengalami turubulensi. Misalnya, bahwa Marketing bukan lagi sekadar tugas tanggungjawab unit atau bagian khusus. Tapi menjadi peran tiap orang di tiap bagian organisasi. Komunikasi berbatas silo, makin irrelevan. Manajer social platform dan reputasi, perannya kian kritis. Kurator pengelola hierarki konten, kian dibutuhkan.

Berkomunikasi kini bukan lagi sekadar soal berkirim pesan. Dialog bukan asal terjadi pembicaraan dua arah. Media kini lebih menjelma sebagai kata sifat, ketimbang kata benda. Fungsi dan peran media kini bukan mengantarkan pesan. Tapi menjadi ide sosial kultural. Karena setiap individu audiens punya audiens masing-masing. Maka konsumen adalah marketer bagi konsumen lain. (lebih…)

Read Full Post »

Gambar

Kontroversi terganggunya pengguna Internet atas iklan yang interruptive di media online, kembali memanas. Gara-garanya, pihak Facebook enggan bergabung dalam kesepakatan bersama yang dibuat antar-pengelola media periklanan Amerika, yang sedang membuktikan komitmennya, untuk melindungi hak para konsumen. Yang tak mau aktivitasnya dimata-matai. Yang keberatan informasi pribadinya digunakan secara sepihak. Dan yang merasa privacy-­nya dilanggar oleh kehadiran iklan-iklan yang tak mereka inginkan.

Padahal dibanding kalangan media online lainnya, Facebook tercatat sebagai yang terbanyak menayangkan iklan di ranah daring itu. Jadi bisa dibayangkan, risiko yang bakal terjadi, cuma gara-gara sikap keenganan Facebook tadi. Misalnya terkait potensi karamnya kesepakatan komitmen perlindungan hak-hak pengguna Internet tadi, sebelum iktikad itu mencapai tujuan. Dan jika itu terjadi, kita semua konsumenlah, yang jadi korbannya. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »